Rabu, 23 Juni 2010

Perihnya Alkohol 100%

Kawan dua hari yang lalu aku pergi ke jalan Wilis. Semua orang pasti tahu tempat apa itu, apalagi mahasiswa dan kalau ada mahasiswa yang belum tahu berarti belum tuntas prinsip ekonominya. Di tempat itu bertaburan pengetahuan. Baik “pengetahuan bajakan” atau pun pengetahuan orisinil. Tepat dihari itu, tiba-tiba aku disindir oleh seorang teman “masak Kang Athan g’ punya Al Qur’an terjemah, profesional g’ sih jadi muslim ?”. Seketika aku langsung berangkat untuk membeli. Ya mungkin Allah SWT ingin menjewerku dengan lisan temanku yang sedikit ember.
Perjalanku sudah penuh dengan emosi. Sampailah aku di Wilis, tanpa bercakap aku menuju satu toko yang kelihatannya “menjual ayat Allah SWT”.

“ Pak, ada Al Qur’an terjemah ? ”, tanya ku dengan nafas ngos-ngosan.

“apa dek, alkohol… waduh… saya g’ jual alkohol”, cakap Si Bapak.

“Pak saya g’ cari alkohol, saya cari Al Qur’an terjemah”, kataku dengan senyum tak ikhlas.

“mungkin di apotik ada, adek salah tempat kalau cari disini”, jawab Si Bapak.

Kampret, orang ini kok mancing emosi banget. Rodhok sedeng emang otaknya. Tapi sabar itu jauh lebih penting. Belum ku tanggapi dia nyerocos lagi. Entah apa yang ada difikirannya.

“waah…, kalau sakitnya parah, lebih baik pakek alkohol 100% saja. Biar cepat sembuh”, ucap Si Bapak dengan senyum tak berdosa

“o… begitu ya Pak, ya Pak nanti alkoholnya saya beli di apotik. Tapi Al Qur’an terjemahnya ada kan Pak ?”, kataku.

“memang dek, kalau sakitnya parah terus dikasih alkohol pasti perih banget tapi habis itu langsung sembuh..”, jawab Si Bapak dengan sok akrab

Cengel bener orang ini. Rasanya pengen mbejek-mbejek.

“tapi kalau sakitnya g’ terlalu parah kalau dikasih alkohol ya g’ terlalu perih. Nah kalau g’ da sakitnya terus dikasih alkohol malah rasanya sejuk banget ibarat hidup ya tentram dan damai banget dalam hati”, tambah Si Bapak.

“bener banget Pak, semua orang kayaknya juga sudah tahu kalau kulit g’ da sakitnya terus dikasih alkohol itu sejuk dan dingin”, jawabku sambil pasang muka sok ramah.

Robbi kenapa Engkau mempertemukan aku dengan orang macam ini, tanyaku dalam hati. Dua langkah aku mundur, aku tengok kekanan dan kekiri. Tak terlihat satupun toko yang “menjual firman Allah SWT”. Ini memang kegilaan siang bolong. Tetapi sekali lagi sabar itu hasilnya jauh lebih manis dari madu.

“Pak, panjenengan ini ngerti apa g’, saya kesini cari Al Qur’an terjemah. Kita sedang ngomongin Al Qur’an terjemah Pak. Bapak dari tadi ngomong alkohol lah, sakit lah-perih-sembuh, tidak sakit-dingin-sejuk-damai. Nyuwun sewu ya Pak.. Bapak ini tunarungu ta…”, tanyaku memperjelas ke GJan ini.

“lho piye to iki... Siapa yang budek. Siapa juga yang ngomongin alkohol... Adek sedang mencari obat 100% to.. ya itu muqoddimahnya…”, jawab Si Bapak dengan muka ramah.

Aku menyerah, ku mundur, ku belokkan badanku. Mungkin lebih baik aku membeli di tempat lain saja sebelum aku ketularan ke-GJ-annya. Tiba-tiba datang belasan orang yang berpakaian putih berebut untuk bersalaman dengan bapak budek itu. Dan aku pun pulang dengan rasa heran.


Malang, 3 November 2008

Balada Sebutir Nasi

Pekan sunyi telah tiba, sudah satu tahun aku di kota bunga ini. Tak terplesit pikranku tentang rumahku. Bahkan aku sudah lupa bau rumput halamanku. Entah mengapa rasa rindu menghinggap di hati. Akhirnya aku kembali. Banyak yang berubah dari kota soto ini, bisa dikatakan otonomi development telah berhasil. Tapi itu semua cuma kenampakan empiric, aku meragukan apakah keberhasilan itu sampai pada wilayah internalisasi dan akomodasi ekonomi. Karena sepanjang jalan tidak kurang dari 10 pengemis aku temui di kota ini. Itu baru dari plang selamat datang hingga halte bus yang pertama. Terlepas dari itu semua, yang jelas kota ini telah terlegitimasi dengan penghargaan otonomi award.

Sambutan hangat datang dari pintu rumah. Dan aku langsung menuju kamar untuk melepas lelah. Terbangun aku oleh panggilan Allah dikala subuh. Hari yang cerah dikampung halaman. Tak terasa hari sudah di jam 06.00 WIB. Lapar rasa perut ini, kalau di sini aku bagaikan raja. Semua makanan sudah tersaji sejak pagi dini, tidak seperti kala nomaden, untuk makan harus menunggu warung-warung makanan buka. Ku ambil nasi sebanyak porsi 2 atau 3 orang. Makanlah aku dengan lahap, tetapi ada beberapa butir nasi yang tak ku habiskan. Seketika Abah bilang,

“habiskan nasinya, jangan sisakan barang sebutir pun… Rosul itu selalu bersih kalau makan, sampai-samapai kita disunahkan untuk membersihkan makanan yang masih di jemari..”

“ya Bah, eman kalau tidak dihabiskan..”

“bukan karena itu…”

Dan Abah tidak melanjutkan ceramahnya.
Setelah makan aku pergi ke sawah. Rasa kangen ku akan hijaunya dunia membuatku ingin kesana. Melihat pepohonan yang masih perawan, rerumputan yang belum aneksploitasi, ikan sungai yang masih minum air zamzam. Sempat berfikir sampai kapan alam ini mampu bertahan dalam keserakahan Homo Sapiens. Kota-kota yang dulu hijau kini sudah menjadi gedung-gedung ala modernisasi. Tarzan sekarang telah diganti Spiderman. Sementara ini aku apriori sajalah, toh yang penting di kampus ku semuanya masih hijau. Hijau ideologinya, entah alamnya. Dzuhur menyapa. Betapa nikmatnya sholat tengah hari di tengah alam. Waktu berjalan. Sore menjelang dan panggilan telah dikumandangkan.

Sampai dirumah, Abah mengajakku diskusi tentang degradasi kultur shaleh social di umat Islam.

“kita ini kurang menghargai dan membantu antar sesama… ”

“kok gitu Bah, diluar sana banyak orang yang bersodaqoh dan saling membantu.. jadi kalau menurut ku umat ini sudah jauh lebih baik..”

“apa iya… itu hal yang besar… kalau kita menilai dari hal yang besar itu sudah biasa.. menilai Presiden dari kinerja dipemerintahan itu biasa, yang tidak biasa itu menilai Presiden dari bagaimana dia merawat anaknya, bagaimana dia membina keluarganya, bagaimana sikap dengan tetangganya.. karena kalau amanah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya itu biasa tapi kalau tidak amanahnya dan dilaksanakan itu baru dinamakan kepedulian yang luar biasa.. hal besar itu berawal dari hal kecil…”

“wah.. kok mbulet Bah…”

“sederhananya seperti makan nasi tadi pagi… kalau makan harus dihabiskan bersih.. karena tiap satu butir itu ada perjuangan seribu orang..”

“seribu orang Bah ??… bukannya cuma satu orang… mbok Yem...”

“itu yang bagian finishing touch… dengarkan tenanan… nasi itu awalnya adalah padi, berapa orang yang tandur padi, berapa orang yang matun trus ngulami, berapa orang yang memanennya, berapa orang yang menjemur , belum yang nyeleb. Akhirnya jadi beras, dan berapa orang yang memasukkan dalam karung beras. Karung itu dari plastik, berapa pegawai pabrik yang membuat karung plastik itu, dan dari mana plastik itu, berapa orang yang terlibat dari proses bahan mentah hingga jadi plastik. Setelah masuk karung, beras didistribusikan, ratusan orang ikut berperan dalam pendistribusian ini. Kemudian sampailah beras itu dipiringmu. Semua itu baru dari beras, terus pekerja tadi pasti pakai baju, dari mana baju itu. Jika kau bisa menelusuri mungkin dalam satu butir beras ada perjuangan jutaan manusia. Makanya kalau makan yang bersih, dengan begitu kau sudah menghargai ribuan bahkan jutaan orang.. Mulailah dari hal yang kecil dan berfikirlah.. itu yang ingin diajarkan Rosul SAW dengan bersih dalam makan…”

“o… fahimna Bah…”

Tak berselang lama telefon bordering, ternyata itu dari orang nomor satu di kota ini. Dan Abah pergi begitu saja.





Lamongan, 22 Mei 2010

Bening Vs Putih

Minggu yang cerah dan indah. Awan terlihat bersahabat dengan menampakkan senyum birunya. Rerumputan bergoyang lakukan tarian alam. Kabut menutupi geramnya hutan dan memperindah puncak pegunungan. So soft itu kata yang terkesan hari ini. Berjalan setapak meniti hutan belantara. Ada keindahan yang tersembunyi, keindahan yang sunyi, kejujuran nurani dan sedikit kecamuk dalam hati tentang hakekat bening.

Terplesit akan pengakuan laqod kholaqnaa al insaana fii ahsaani taqwiimi. Melihat wajah-wajah penuh pahala. Senyum-senyum manis penakluk hati. Melihat jiwa penuh dosa. Rona-rona nafsu yang berada di bilik-bilik pepohonan yang berserakan. Diri yang bertingkah polah, memakan seluruh dunia. Melihat mentari terpantul dari tetesan embun pagi. Pribadi yang mensucikan. Seberapa bening hati ini atau seberapa putih hati ini.

Dan seputihnya pikiran ku berawal dari dimana aku besar dan mulai tahu arti bernafas. Aku ini manusia yang besar dan menyusu di peradaban hijau, peradaban yang dikata munafik dan haus kekuasaan. Dikata berpolitik hedonis, dan jika kepepet bertingkah apriori. Dikata beraliran liberal konstruktif. Dikata sering memproduksi barang setengah jadi atau barang jadi tetapi tak sesuai dengan netto. Aku tak sakit hati, aku sudah minum susunya. Aku bisa hidup karena Allah SWT mencukupkan aku lewat peradaban hijau itu.

Dan jikala aku mencintaimu, kamu dan kamu, kau pasti jadi urutan yang setelah peradaban hijauku. Yang membuatku terusik adalah saat dikata munafik. Apa itu munafik. Apa itu Non Blok. Apakah itu putih dan apalah pula itu bening.

Di peradaban hijauku aku diajari untuk menjadi putih dalam fikiran dan bening dalam hati serta kontemplasi. Berhati-hatilah jangan sampai terbalik dalam meletakkannya. Resapi betapa fatalnya jika kita membalikknya. Putih bukan munafik bukan pula Non Blok. Ia adalah nuansa ilhami, nuansa penuh kasih sayang, nuansa kepedulian.

Putih, dari sekian warna, putih lah yang paling menarik. Bahkan sang Pencipta pun tertarik padanya. Ibadah ikhrom harus memakai pakaian putih, sholat disunahkan mengenakan yang serba putih. Lihatlah putih, dia menyatukan warna yang awalnya berbeda menjadi satu dalam dirinya. Lihatlah putih yang selalu mencintai sesamanya, melengkapi kekurangan sesamanya, memperbaiki kesalahan sesamanya.

Sekejab aku berfikir tentang putih. Dia tidak munafik. Dia tidak menjadi hijau jika bersama si Hijau, dia tidak menjadi Biru kala bersama si Biru, dan tidak pula menjadi merah saat membaur dengan si Merah. Perhatikan putih yang menjadikan biru menjadi biru muda yang orang menganggapnya lambang kedamaian. Si Merah pekat di ubahnya menjadi pink yang orang menamainya dengan feminisme dan kelembutan. Si Hitam muram disulapnya menjadi hijau yang diperadaban hijauku, itu melambangkan Keimanan, KeIslaman, dan Kemakmuran. Dia selalu mewarnai dimana dia berada. Dia tidak ingin menjadi yang lain, ia tetap tegar dengan independensinya dan tidak melupakan sesamanya. Itulah putih yang diajarkan di peradaban hijauku. Putih lambang Kemurnian dan Kesucian Perjuangan.

Bening itu begitu indah, tapi jangan pernah berfikiran bening. Taukah kau apa itu berfikiran bening. Lihat si Bening. Jika dia bergaul dengan si Merah, ia akan menjadi apa. Jika dia bergaul dengan si Biru, ia akan jadi apa. Itulah munafik. Allah SWT sudah mengabarkan cirinya.

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman." Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok."

Di peradaban hijauku, bening diharuskan untuk hati. Hati yang bening senantiasa menerima kebenaran dari segala sudut. Dan dia tidak menyimpan untuk dirinya sendiri, sudah menjadi fitrahnya untuk memantulkan kebenaran. Kala hatimu kau putihkan, ia akan sulit ditembus cahaya dan kau tak pernah bisa memantulkan cahaya.

Akhir aku mulai sadari betapa luar biasa peradaban hijauku yang telah mengajariku memutihkan fikiran dan membeningkan hati. Mungkin hanya terima kasih yang bisa ku ucapkan. Padahal harusnya “jangan terus meminta ke peradaban hijauku, tetapi terus memberilah ke peradaban hijauku”.



Kepanjen, 23 Juni 2010

Kiai Bayaran Vs Pembunuh Bayaran

Semua orang pasti kenal Joahn de Putte. Benar sekali, dia adalah pembunuh bayaran kelas kakap. Tiga hari yang lalu dia tertangkap oleh Inspektur Khan Prett di daerah Sumatra Tengah, tepatnya di desa Ngawang. Kalau orang melihat wajahnya, kesan seram yang pertama tersirat. Kulitnya hitam, rambutnya kriting, badannya besar, matanya merah dan telinganya kecil. Sudah 14 nyawa melayang gara-gara ke-jail-an tangannya. Caci-makian bahkan ludahan diterimanya saat dia diseret Inspektur Khan ke mobil travel khusus menuju hotel prodeo.
Tak habis pikir aku ini, nyawa sebanyak itu kok dihargai dengan murah. Seolah-olah dia telah menggantikan Tuhan secara temporal. Lama orang membicarakan figure manusia satu ini, bahkan sampai hari ini semua media massa masih membahasnya. Joahn de Putte Si Pembunuh Berdarah Dingin… Joahn de Putte Si Raja Tega… Joahn de Putte.. Joahn de Putte…. Judul-judul itu yang menghiasi headline news di setiap newspaper. Sampai-sampai orang lebih mengenal Joahn de Putte dari pada mengenal tetangganya sendiri. Malas rasanya aku membaca newspaper hari ini. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah langganan, kalau tak dibaca mubadzir nantinya.
Semakin ku baca semakin benci dan muak aku dibuatnya. Aku tak percaya ada orang sekejam ini. Dan sempat terfikir “adakah orang yang lebih sadis dari dia ?”. Mungkin ada, yaitu tukang fitnah. Karena di Al Furqon dikatakan fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan. Tapi kenapa ?

“mungkin kalau pembunuhan fisik masih dalam konteks sejarah… yang dirugikan bersifat individual dan cenderung temporal solution”, jawabku dalam hati.

“lho kalau fitnah…”, tanyaku dengan dengkul.

“mungkin kalau fitnah itu pembunuhan karakter, ideology dan paradigma… orang sering lebih memilih kehilangan hal yang bersifat kebendaan dari pada kehilangan hal yang karakteristik dan paradigmatic.. ini adalah bukti kalau fitnah itu merupakan pembunuhan yang jauh lebih kejam dari pembunuhan fisik atau kebendaan…”, jawabku dalam hati.

“bener juga sih.. yang dirugikan juga banyak”, tegasku dengan dengkul.

“itu makanya.. kerugian dari fitnah cenderung komunal dan sporadic.. jadi intinya pembunuhan karakter dan ideology itu jauh lebih kejam dan fatal efeknya..”, jawabku dengan otak

“lha terus orang yang melakukan itu kayak gimana cirinya…”, tanyaku dalam hati.

“ciri pastinya aku kurang tahu, tapi biasanya orang ini memanfaatkan paradigma dan self image… misal saja yang harusnya bekerja di masjid malah memanfaatkan citra ke-ustadz-an untuk mempropaganda majelis pengajian dalam pemilu… ini benar-benar telah mematikan ideology sekaligus pembunuhan karakter..”, jawabku dalam lisan.

Wah.. dari pada aku semakin gila karena ngomong sendiri, lebih baik aku tutup newspaper ini. Masih banyak hal yang harus aku lakukan diluar sana.Tetapi tetap saja masih terplesit dalam relungku tanda tanya besar “Apa benar Kiyai Bayaran jauh lebih kejam dari pada Pembunuh Bayaran ?”



Kepanjen, 15 Juni 2010

Islam Cs Zaman

Luar biasa Indonesia ini, penghargaan terhadap budaya begitu kuat. Sampai budaya luar pun dipersilahkan masuk begitu saja tanpa saringan. Kadang pakai saringan tapi saringan yang dipakai masih level saringan tahu-tempe. Negeriku ini memang sensitive dengan budaya barat namun disisi lain masih jarang yang selektif. Negeri yang dulu berpijak pada sifat akulturalisasi malah tanpa sadar mereduksi budaya sendiri hingga kita tak bisa membedakan mana susu mana tajin, mana sirup mana jamu, mana gamelan mana orchestra.
Dulu orang menutup aurat dengan rapi, sekarang menutup aurat bagai hal yang tabuh. Di Tipi-Tipi, semua artis berpakaian begitu rapi seolah-olah kekurangan bahan, dan itu menjadi tren di kaum muda. Kesalahan yang menjadi mayoritas bisa membuat kebenaran menjadi kesalahan yang terkamuflase. Sekarang cewek yang memakai busana muslim dianggap ketinggalan zaman, sedang yang memakai hotpans dianggap modern. Begitu susahnya Edison mencipta lampu untuk menerangi, malah sekarang lampu sengaja dibuat redup. Orang bilang supaya terlihat romantis lampu harus redup lebih tepatnya remang-remang. Ada yang lebih parah, bukan hanya diredupkan tapi malah dihidup-matikan. Edi mungkin menangis melihatnya. Apa benar Islam dan injeksi kulturalistiknya sudah ketinggalan zaman. Zaman yang mengikuti Islam atau Islam yang harus mengikuti zaman, atau mungkin mereka memang variable bebas. Yang tak sedikitpun punya toleransi-korelasi. Mana yang menjadi eksogen dan mana yang menjadi endogen.
Kalaulah zaman harus mengikuti Islam, mau jadi apa zaman. Islam itu agama peradaban, ia menstimulus development peradaban. Jika zaman yang mengikuti Islam maka pastilah zaman akan stagnan. Dimensi waktu saja yang terus berjalan sedang isinya akan tetap saja. Ajaran-ajaran Islam sacral tak bisa dirubah dan dikembangkan. Islam ya Islam, Islam bukan peradapan zaman. Islam hanya mantij al taqofah.
Kalaulah Islam yang mengikuti zaman, maka akan terjadi distrek-distrek dalam ritus dan multitafsir akan ajaran Islam itu sendiri. Apakah karena sekarang abad 21, abad yang serba sibuk, maka sholat yang lima waktu dapat diganti menjadi satu waktu. Apakah karena sekarang tahun 2009, tahun yang penuh dengan mode maka jilbab harus dibahas ulang. Apakah karena dewasa ini perekonomian dunia membaik maka zakat minimal bukan 3 kg tapi 10 kg. Dilemma sekali dunia ini.
Lalu harus dimana posisi Islam itu. Di kanan, kiri, tengah, depan, belakang, atas, bawah atau dimana.
Kalaulah aku boleh menagambil jalan wasathon. Aku akan dengan tegas mengatakan posisi Islam itu mendampingi dan menjaga zaman. Biarlah aku berjalan maju atau bahkan berlari secepat mungkin, tetapi kau harus mendampingiku. Jika nanti aku melenceng dari territorial ku atau khittah ku, kau yang akan membawaku kembali. Engkau juga harus menjagaku, kala aku mulai terstimulus dengan godaan yang akan menjauhkan dari fitrah ku, kau yang mengcounter pertama kali. Nasehati aku jika aku mulai mlempem saat berjalan maju. Motivasi aku agar aku tidak lelah untuk terus berlari kedepan sampai mendekati idealitas. Itulah aku, akulah zaman dan kau, engkaulah Islam.
Jangan pisahkan dua sekawan ini, atau kehancuran di depan matamu. Sekawan yang harus berjalan beriringan. Mungkin hanya orang bodoh yang mau memisahkan sekawan ini. Tapi entah mengapa di luar sana begitu banyak orang yang berfikir sekuler. Merasa besar tanpa Islam, dan merasa cukup dengan zaman. Mari, coba kita lihat sampai kapan mereka mampu bertahan dalam kegalauan.

Malang, 18 November 2009

Signal-Signal Cinta

Syukur Alhamdulillah, Allah SWT masih memberikan aku ijin untuk melihat fajar kadib pagi ini. Dalam setengah sadarku aku berjalan menuju tempat wudlu. Kujalani laporan pertamaku hari ini. Tak cukup sampai disitu, ku ikuti sekalian kajian tematik pagi ini. Tema bahasannya adalah solawat. Ustadz mulai berkoar-koar dengan semangat kemerdekaan ideology, seolah dia baru diangkat menjadi Rosul kemaren sore.
Selesai kajian aku kembali ke kamar. Teman sekamarku masih dikamar, dia tidak ikut kajian. Seperti biasa, alasannya beda prinsip. Aneh memang hidup ini, prinsip itu harusnya menguatkan ukhuwah , bukan mem-partisi kelompok atau bahkan mendistorsi definisi-definisi ritus agamis, tapi apalah guna teori kalau fakta lapangan memang ber-negasi. Hasil kajian itu menjadi kutu di otakku, semakin gatal rasanya kala aku memikirkan ulang. Timbul pertanyaan jail dari otakku “kenapakah kita harus bersolawat untuk beliau, padahal Kanjeng Nabi itu sudah pasti masuk surga..”

“Wah.. percuma kau ikut kajian, kenapa tidak kau tanyakan ke ustadz culun tadi..”

“kalau tanda tanya besar ini barusan adanya, tadi masih jadi gelas kosong yang siap diisi.. nah sekarang aku jadi lilin yang harus dinyalakan…”

“analogi sederhananya gini, Kanjeng Nabi itu bagaikan gelas kecil yang penuh dengan air, gelas itu diletakkan di tengah ember kosong. Saat gelas kecil itu terus diisi air, pasti akan amber. Air yang meluap itu pasti jatunya ke ember. Taukah kau.. ember itu adalah kita ini, dan cara mengisi gelas tidak ada lain kecuali dengan solawat..”

“mantep juga logikamu… kalau begitu aku g’ usah bersolawat saja..”

“lo.. kau tak mau dapat air luapan dari gelas ta…”

“katamu tadi, gelasnya penuh.. kalau memang penuh, sekalipun diisi dengan satu tetes pasti akan amber to.. luapannya pasti dibagi rata di dasar ember... Katanya anak-anak kader fisika, itu ma udah menjadi fitrah dari benda cair.. iya to..”

“ealaaah… Kang Athan - Kang Athan wong edan kowe iki… ada saja celah ikhtilaf-nya... lah terus menurutmu piye..”

“solawat itu antenna penangkap signal-signal cinta dari Kanjeng Nabi… he.. he..”

“we… e… puitisnya mulai… trus hubungnnya piye…”

“dimana-mana kalau ingin mendapat banyak signal cara yang paling top markotop adalah memperbanyak, mempertinggi, atau meningkatkan kualitas antenna... yo opo ora.. nah.. solawat itulah antenna… meski Kanjeng Nabi sudah wafat jasadnya, tapi cintanya masih bertebaran dimana-mana, cinta itu salah satunya do’a Kanjeng Nabi untuk umatnya. Orang yang bersolawat untuk Kanjeng Nabi, ia akan menangkap signal- signal cinta itu…”

“berarti yang banyak pasang antenna pasti dapat banyak signal cinta.. gitu yo… sepakat aku.. jadi adil g’ koyok luapan air tadi...”

“dan yang paling penting adalah antennanya… karena sering terjadi iftirokh hingga menyebabkan firqoh-firqoh gara-gara antenna ini… Kalau di iklan-iklan antenna yang bagus itu kan yang lima jari, tapi empat jari atau tiga jari juga bisa menangkap signal… Cuma mungkin tidak sekuat yang lima jari, jadi antenna tiga, empat, dua atau bahkan satu jari itu bukan bid’ah syar’i… hal substansial adalah eksistensi antenna itu sendiri, asal masih antenna pasti bisa menangkap signal”

“ancene… logikamu mantep tenan... gedabruss mode on…”

“zzzzz… okhrr…okhrrr…. ooookhrrr”

“jan akeh tenan kebo kaki loro di dunia ini……”

Sekejab pikiranku buyar brantah gara-gara terdengar suara dengkuran yang keras dari orang idealis premordial di sampingku ini. Sedang aku masih berdiri sendiri melihat diriku di depan kaca dan aku tersenyum puas.


Malang, 5 Februari 2008

Kreatif > Kere Aktif

Panas sekali udara hari ini, ditambah lagi panas pula otakku. Lebih baik aku cari sedikit hiburan. Tapi hiburan apa. Mau ke bioskop g’ ada uang. Mau ke Matos nanti dikira mahasiswa yang murtad dari idealisme. Sejenak berjalan ke belakang, dan aku melihat TV tua dengan antena yang kontra teknilogi. Tak ada rotan akar pun jadi. Ya.. mungkin dengan nonton TV itu cukup sebagai hiburan. Ku nyalakan TV dan yang muncul adalah siaran berita. Mengabarkan tentang orang kaya baru.
Pembawa berita mulai nyerocos.
“Si Joko, orang kaya baru. Dia bukanlah sarjana muda, bahkan mimpi untuk jadi sarjana saja tidak. Lalu apa yang bisa membuat dia sukses. Ternyata dia mampu mengolah sampah plastik menjadi tas dan dompet yang unik. Pasarannya sudah menembus beberapa Negara di Asia Tenggara.”
Ketika ditanya kiat-kiat sukses, Si Joko cuma bilang “saya cuma sering berdzikir dengan ya Kholik seribu kali”. Lho mosok dengan berdzikir saja. Padahal aku dan para calon sarjana muda berzikir ya ‘Alim sampai belasan tahun, tiap hari dari jam 07.00 WIB sampai 17.00 WIB dan ada yang lebih seperti jurusan mbah Enstein. Aku mungkin bisa maklum, karena selama belasan tahun aku diajari untuk membuang sampah pada tempatnya bukan mengolah sampah pada tempatnya. Iri rasanya melihat orang ini menjadi kaya, karena dia bisa bersodaqoh banyak, sedang aku masih mencari subjek dan predikat untuk sodaqoh dan objek untuk disodaqohkan.
Belum selesai aku berfikir tentang kontradiksi sosial ini. Terdengar suara dari setudio 1 “pesawat sederhana adalah bla…bla…bla…”. Siapa gerangan yang mengucapakan kata yang berulang-ulang lagi keras. O…. Ternyata mereka adalah kaum mbah Einstein. Kenapa pula mereka mengucapkannya berulang sampai ratusan kali. Apa benar untuk menghafalkannya. Ku tanya langsung pada dua orang itu.

“hey.. kenapa kalian ulang-ulang kata itu… mengganggu saja…”
“ya biar hafal Kang Athan…”
“tapi setelah ku ulang ratusan kali… kok aku jadi kepikiran… apa yo manfaatnya
buat ku… apa manfaatnya buat hidupku…”
2 “lho ya minimal biar bisa buat pesawat sederhana to… wong dihafalkan atau tidak
pesawat sederhana itu sudah sederhana dan sudah ada… ya tinggal kita berkreatif
dalam mengaktualisasikannya...”
“o…. ini maksudnya.. cerdas juga Si Joko ini…”
“sopo Joko itu…”
1 “orang yang lebih cerdas dari Eintein..”

Ngapain juga aku ngurusi dua orang ini, lebih baik aku lanjutkan nonton Si Joko. Bertanyaan bertubi-tubi dilontarkan. Si Joko tetap pada jawaban yang cenderung konstan dan apriori seolah tak ingin membagi kesuksesannya. Jawabanya sangat normatif dan banyak yang definitif.
Aku semakin heran, diluar sana banyak yang aktif memunguti sampah plastik. Mereka bangun lebih pagi dari matahari. Menyambung hidup hari ini tanpa tau hidup untuk besok. Kehidupan dalam marginalitas yang konsisten pada ke-proletar-an. Apa yang salah dari mereka. Aktif merupakan prinsip dasar atau bahkan basic need bagi mereka, sedang kreatif adalah qiyas. Dengan objek yang sama tetapi dengan predikat yang berbeda ternyata mampu membuat fluktuasi social yang begitu kentara.
Lalu aku harus bagaimana. Apakah kere tapi aktif, atau kreatif dan kaya. Sedang aku tidak punya banyak waktu untuk berdzikir ya Kholik karena waktuku benar-benar tersita untuk berdzikir ya ‘Alim. Untuk kejelasannya harus ada yang bertanggung jawab untuk semua ini. Minimal mereka yang duduk di Negeri Batavia harus mau menanggung dosaku akibat tidak sempat berdzikir ya Kholik seribu kali.



Malang, 21 Juni 2009

Minggu, 20 Desember 2009

KATA-KATA MUTIARA II

Hari ini sebelum kita mengatakan kata-kata yang tidak baik,
Fikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berkata-kata sama sekali.

Sebelum kita mengeluh tentang rasa dari makanan,
Fikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa,
Fikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan.

Sebelum kita mengeluh bahwa kita buruk,
Fikirkan tentang seseorang yang berada pada keadaan yang terburuk di dalam hidupnya.

Sebelum mengeluh tentang suami atau isteri anda,
Fikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidupnya.

Hari ini sebelum kita mengeluh tentang hidup,
Fikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.

Sebelum kita mengeluh tentang anak-anak kita,
Fikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.

Sebelum kita mengeluh tentang rumah yang kotor kerana pembantu tidak mengerjakan tugasnya,
Fikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.

Dan di saat kita letih dan mengeluh tentang pekerjaan,
Fikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti kita.

Sebelum kita menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
Ingatlah bahawa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.

Dan ketika kita sedang bersedih dan hidup dalam kesusahan,
Tersenyum dan berterima kasihlah kepada Allah bahwa kita masih hidup !

Note :
Jalani hidup dengan bijak, dan sikapi segala permasalahan yang dihadapi dengan kepala dingin dan hati yang tenang.
Cita-Cita Terbesar Dalam sebuah perjalanan hidup, cita-cita terbesar adalah menuju kesempurnaan.

Ada kalanya kita mesti berjuang, serta belajar menyikapi segala rahasia dalam kehidupan ini.

Perjalanan menuju kesempurnaan adalah proses yang menentukan setiap tapak langkah kita. Setiap hembusan nafas, detak jantung, dari siang menuju malam. Semua menuju titik yang sama, kesempurnaan.

Setiap insan mempunyai hak yang sama atas waktu. Tidak ada seorangpun melebihi dari yang lain. Namun tak jarang setiap kita berbeda dalam mensikapinya. Ada yang berjuang untuk melewatinya dengan membunuh waktu. Tidak pula sedikit yang merasakan sempitnya kesempatan yang ia punya.

Apa rahasia terbesar dalam hidup ini? Melewati hari ini dengan penuh makna. Makna tentang cinta, ilmu, dan iman. Dengan cinta hidup menjadi indah. Dengan ilmu hidup menjadi mudah. Dan dengan iman hidup menjadi terarah.



Manusia bahagia bila ia bisa membuka mata.
Untuk menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti.
Manusia bisa bahagia bila ia mau membuka mata hati.
Untuk menyadari, betapa ia dicintai.
Manusia bisa bahagia, bila ia mau membuka diri.
Agar orang lain bisa mencintainya dengan tulus.
Manusia tidak bahagia karena tidak mau membuka hati, berusaha meraih yang tidak dapat diraih,
memaksa untuk mendapatkan segala yang diinginkan, tidak mau menerima dan mensyukuri yang ada,
manusia buta, karena egois dan hanya memikirkan diri, tidak sadar bahwa ia begitu dicintai,
tidak sadar bahwa saat ini, apa yang ada adalah baik, selalu berusaha meraih lebih, dan tidak mau sadar karena serakah.
Ada teman yang begitu mencintai, namun tidak diindahkan, karena memilih, menilai dan menghakimi sendiri.
Memilih teman dan mencari-cari, padahal di depan mata ada teman yang sejati.
Telah memiliki segala yang terbaik, namun serakah, ingin dirinya yang paling diperhatikan,
paling disayang, selalu menjadi pusat perhatian, selalu dinomorsatukan.
Padahal, semua manusia memiliki peranan, hebat dan no.1 dalam satu hal,
belum tentu dalam hal lain,
dicintai oleh satu orang belum tentu oleh orang lain.
Kebahagiaan bersumber dari dalam diri sendiri, jikalau berharap dari orang lain, siaplah ditinggalkan, siaplah dikhianati.
Kita akan bahagia bila bisa menerima diri apa adanya, mencintai dan menghargai diri sendiri,
mau mencintai orang lain, dan mau menerima orang lain.
Percayalah kepada Tuhan, dan bersyukurlah kepadanya, bahwa kita selalu diberikan yang terbaik sesuai usaha kita, tak perlu berkeras hati,
Ia akan memberi kita di saat yang tepat apa yang kita butuhkan, meskipun bukan hari ini, masih ada esok hari.
Berusaha dan bahagialah karena kita dicintai begitu banyak orang.

KATA-KATA MUTIARA

Tak seorang pun sempurna.
Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak.
Menyedihkan melihat orang berkeras bahwa mereka benar meskipun terbukti salah
Bila kita mengisi hati kita dengan penyesalan untuk masa lalu dan kekhawatiran untuk masa depan,kita tak memiliki hari ini untuk kita syukuri.

Pikiran yang terbuka dan mulut yang tertutup, merupakan suatu kombinasi kebahagiaan.
Semakin banyak Anda berbicara tentang diri sendiri,
semakin banyak pula kemungkinan untuk Anda berbohong.

Jika Anda tidak bisa menjadi orang pandai, jadilah orang yang baik.

Iri hati yang ditunjukan kepada seseorang akan melukai diri sendiri.
Anda cuma bisa hidup sekali saja di dunia ini,
tetapi jika anda hidup dengan benar,sekali saja sudah cukup.

Kenangan indah masa lalu hanya untuk dikenang, bukan untuk diingat-ingat.
Rasa takut bukanlah untuk dinikmati,tetapi untuk dihadapi.
Orang bijaksana selalu melengkapi kehidupannya dengan banyak persahabatan.

Buka mata kita lebar-lebar sebelum menikah,
dan biarkan mata kita setengah terpejam sesudahnya
Persahabatan sejati layaknya kesehatan, nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya

Bertemanlah dengan orang yang suka membela kebenaran.
Dialah hiasan dikala kita senang dan perisai diwaktu kita susah
Namun kita tidak akan pernah memiliki seorang teman,
jika kita mengharapkan seseorang tanpa kesalahan.
Karena semua manusia itu baik kalau kita bisa melihat kebaikannya
dan menyenangkan kalau kita bisa melihat keunikannya
tapi semua manusia itu akan buruk dan membosankan
kalau kita tidak bisa melihat keduanya.

Semulia-mulia manusia ialah siapa yang mempunyai adab,
merendahkan diri ketika berkedudukan tinggi,
memaafkan ketika berdaya membalas dan bersikap adil ketika kuat.

Sesungguhnya sebagian perkataan itu ada
yang lebih keras dari batu,lebih tajam dari tusukan jarum,
lebihpahit daripada jadam dan lebih panas daripada bara.
Sesungguhnya hati adalah ladang,
maka tanamkanlah ia dengan perkataan yang baik
karena jika tidak tumbuh semuanya (perkataan yang tidak baik)
niscaya tumbuh sebagiannya

Tidak ada simpanan yang lebih berguna
daripada ilmu.
Tidak ada sesuatu yang lebih beruntung daripada adab.
Tidak ada kawan yang lebih bagus daripada akal.
Tidak ada benda ghaib yang lebih dekat daripada maut.

Emas adalah logam mulia, namun emas juga adalah malapetaka --Dr.Karl May, author buku Petualangan Old Shatterhand

Kepengecutan yang paling besar adalah ketika kita membuktikan kekuatan kita kepada kelemahan orang lain --Jacques Audiberti

Yang terpenting adalah menguasai diri sendiri --Eckermann

Seorang Intelektual adalah orang yang pikirannya menjaga pikirannya sendiri --Albert Camus

Kerendahan hati merupakan ruang tunggu bagi kesempurnaan --Marcel Ayme


Jiwa-jiwa yang kuat tidak iri hati dan tidak takut. Iri hati merupakan kesangsian dan takut merupakan kekerdilan --Balzac

Prasangka dibenci bukan karena dirinya sendiri, tetapi karena ia menyebabkan ornang-orang mempercayainya --Marcel Atland

Hari adalah bagai sepatu yang harus dipakai untuk berjalan --Steve Orlen

Jangan takut dengan kesalahan. Kebijaksanaan biasanya lahir dari kesalahan (Paul Galvin, founder Motorola)

Hidup itu seperti musik, yang harus di komposisi oleh telinga, perasaan dan instink, bukan oleh peraturan (Samuel Butler)

Saya harus mencintai negara saya dan keadilan --Albert Camus

Diam bukanlah cara untuk membuktikan kesalahan .--Henry Wheeler Shaw

Orang yang tidak sabar akan menunggu dua kali --Mack McGinnis

Gagasan tidak turun dari langit yang abstrak, tetapi muncul dari tanah dan pekerjaan --Alain

Alasan mengapa kekuatiran membunuh lebih banyak orang dibanding dengan kecelakaan kerja, adalah karena lebih banyak orang yang penuh kekuatiran dari pada bekerja.-- Robert Frost

Diberkatilah orang yang terlalu sibuk untuk kuatir pada siang hari, dan terlalu lelah untuk kuatir di malam harinya .-- Phil Marquart

Apabila perjalanan menjadi sulit, orang yang ulet akan berjalan terus.--Knute Rockne

Di dunia ini benda-benda tidak akan berubah, kecuali kalau ada yang mengubahnya .--James A.Garfield

Hari bagai sepatu yang harus dipakai untuk berjalan --Steve Orlen

Jangan buang hari ini dengan mengkuatirkan hari esok. Gunung pun terasa datar ketika kita sampai ke puncaknya. --Phi Delta Kappan

Sedikit orang kaya yang memiliki harta. Kebanyakan harta yang memiliki mereka --Robert G. Ingersoll

Bukan masalah-masalahmu yang mengganggumu,tetapi cara Anda memandang masalah-masalah itu.Semuanya bergantung pada cara Anda memandang sesuatu . -- Epictetus

Compassion is the basic of all morality --Arthur Schopenhauer

Emas yang murni diperoleh melalui proses pembakaran dengan api dan penyaringan

Expresi sejati dari diri manusia adalah pada saat ia berdansa sesuai irama dan musiknya.Tubuh tidak pernah berdusta. --Agnes de Mille

Tak ada yang menarik,jika Anda tidak merasa tertarik --Helen MacInnes

Aturan nomor satu bagi masyarakat yang benar-benar beradab adalah membiarkan manusia berbeda-beda --David Grayson

Hidup manusia penuh dengan bahaya, tetapi justru di situlah letak daya tariknya --Edgar Alnsel Mowrer

Anda tidak dapat merencanakan masa yang akan datang berdasarkan masa lalu --Edmund Burke

Kita tidak bisa mengingkari kesan bahwa manusia umumnya menggunakan standar yang keliru. Mereka mencari kekuatan,sukses dan kekayaan untuk diri mereka sendiri, memuji diri mereka di hadapan orang lain dan mereka memandang rendah pada apa yang sebenarnya berharga dalam hidup --Sigmund Freud

SAJAK CINTA

Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.~ Mahatma Ghandi

Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah namanya Cinta.

Ada 2 titis air mata mengalir di sebuah sungai. Satu titis air mata tu menyapa air mata yg satu lagi,” Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. Siapa kamu pula?”. Jawab titis air mata kedua tu,” Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu sahaja.”

Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: aku turut bahagia untukmu.

Jika kita mencintai seseorang, kita akan sentiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada disisi kita.

Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.

Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kamu mahu berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tapi apabila kamu Coba menutup matamu dari orang yang kamu cintai, cinta itu berubah menjadi titisan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.

Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia , lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya . Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.

Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu.

Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat -Hamka

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.

Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahawa pada akhirnya menjadi tidak bererti dan kamu harus membiarkannya pergi.

Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping.
Dan hanya dengan mendengar kata “Hai” darinya, dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.

Tuhan ciptakan 100 bahagian kasih sayang. 99 disimpan disisinya dan hanya 1 bahagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bahagian itulah, makhluk saling berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya kerana takut anaknya terpijak.

Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehinggalah kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi.

Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya.

Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta !

Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.

Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.~ Hamka

Kata-kata cinta yang lahir hanya sekadar di bibir dan bukannya di hati mampu melumatkan seluruh jiwa raga, manakala kata-kata cinta yang lahir dari hati yang ikhlas mampu untuk mengubati segala luka di hati orang yang mendengarnya.

Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya

Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.

Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak. Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu.

Bercinta memang mudah. Untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.

Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan. (Dale Carnagie)



Untuk para kader HMI yang pro pacaran.....

Kamis, 17 Desember 2009

TRIK MEMINTA MAAF

Hampir semua orang pernah melakukan atau mengatakan sesuatu hal yang membuat orang lain, rekan, sahabat, saudara atau orang trekasih menjadi kecewa dan sakit hati. Itu terjadi di mana saja, di lingkungan sekolah, keluarga, organisasi. lingkungan kerja, termasuk di dunia bisnis. Bagaimana meredakan ketegangan akibat kekeliruan itu ?
Jawabannya, minta maaf ! Seseorang bisa terprovokasi, kecewa atau sakit hati karena tingkah laku anda. Sebagian orang sengaja menggunakan cara - cara provokatif, menekan, atau menyakiti perasaan demi tujuan - tujuan tertentu. Terkadang sesuatu yang menyakitkan bisa terjadi begitu saja. Tanpa anda bermaksud menyakiti siapapun. Akibatnya komunikasi antar pribadi terganggu. Yang tak sengaja berbuat kekeliruan akan merasa bermasalah. Yang disakiti hatinya akan menarik diri dari relasi. Kadar kepercayaan satu sama lain menyusut. Lebih parah lagi, bisa tumbuh dendam. Berikutnya, konflik akan cenderung bergeser ke konflik personal. Dalam menjalankan bisnis network marketing, tak jarang seseorang menghadapi persoalan semacam itu. Bila anda sedang mengalaminya, apa yang akan anda lakukan ? Apakah anda akan membiarkan relasi semakin memburuk atau putus sama sekali ? Ataukah anda akan memperbaiki untuk mengambil manfaatnya di kemudian hari ? Memang sebagian orang tidak gampang melihat atau mengakui adanya kesalahan. Dan memang tidak mudah mengungkapkan permohonan maaf. Tapi bila dibiarkan saja, keadaan itu bisa makin memperburuk berbagai bentuk hubungan lainnya. Jika anda berpandangan memohon maaf itu baik untuk mem[erbaiki keadaan, dan itu bukan hal tabu bagi anda, lakukankah kemampuan pribadi yang sangat bermanfaat dan diperlukan dalam setiap bentuk komunikasi. Hal itu bisa dilatih dan bisa menjadi perilaku positif yang terlekat pada diri kita. Deniss R. Tesdell, penulis dan seseorang pelatih pengembangan pribadi anggota International Coach Federation, menyajikan sepuluh cara meminta maaf. Menurut Tesdell, cara - cara ini bisa berhasil tergantng pada jenis masalah, bagaimana cara anda melakukannya, siapa orang yang anda tuju, serta situansinya. Bila anda ingin sungguh - sungguh meminta maaf, tak ada salahnya menyimak teknik Tesdell berikut :

1. Jujur saat menghadapi masalah
Artinya biasakan bersikap terbuka pada orang lain. Jangan takut mengungkapkan permasalahan yang Anda hadapi. Jika ia tahu masalah yang Anda hadapi dan ternyata Anda berbuat kesalahan, mungkin orang lain akan bisa memahami dan Anda harus bisa menjelaskan perbuatan/kesalahan Anda tersebut pada orang itu.

2. Berani mengakui kesalahan
Jangan takut atau malu mengakui kesalahan yang Anda perbuat. Berani mengakui kekuarangan dan kesalahan adalah ciri orang berjiwa besar.

3. Menampakkan penyesalan
Jika Anda mengalami ini katakan betapa Anda sangat menyesal telah menyakiti hatinya. Namun, penyesalan yang Anda lakukan hendaknya bukan sekedar lip service alias ucapan dibibir. Penyesalan yang mendalam dan tulus akan terbaca dari sikap yang Anda tampilkan.

4. Mau berubah
Jiwa besar untuk mengakui dan menampakkan penyesalan wajib diikuti perbaikan sikap dan perilaku. Jika setelah meminta maaf Anda tetap mengerjakan pekerjaan yang merugikan atau menyakitkan hatinya, tentu permohonan maaf Anda tak akan berarti apa-apa.

5. Menyenangkan hatinya
Usai meminta maaf, lengkapi komunikasi dengan mengerjakan hal-hal yang dapat menyenangkan hatinya. Dan kalau perlu berikan perhatian yang lebih dari biasanya.

6. Tidak mengulangi kesalahan yang sama
Berusahalah untuk konsekuen terhadap janji yang telah Anda ucapkan padanya. Kesungguhan Anda untuk tidak melakukan kesalahan serupa akan membuat Anda lebih berhati-hati dalam melangkah.

7. Siap menerima kritik
Jangan sekali-kali merasa apa yang Anda lakukan selalu benar. Berbesar hati untuk menerima pendapat atau kritik adalah salah satu cara untuk meminimalisir kesalahpahaman.

8. Dekati Lewat Telepon . Telepon sering menjadi alat utama untuk meminta maaf yang langsung menuju sasaran. Kadang telepon menjadi pilihan terbaik. Jika anda menyinggung perasaan seorang teman dan dia berada di lain kota, maka permintaan maaf yang tultus melalui telepon biasanya diterima. Pada suatu saat tertentu orang memang tidak berminat atau tidak siap mendengar permohonan maaf. Namun, kalau ada masalah jarak seperti itu, alasan yang anda sampaikan bisa dimengerti.

9. Surat Penjelasan . Menulis surat, baik surat cinta, surat persahabatan, atau surat yang mengekspresikan perasaan menyesal, bisa menjadi penyammpai pesan yang berdampak besar bagi seseorang. Surat sangat efektif terutama jika anda terlalu nervous, kesulitan menghadapi orang secara langsung, atau tinggal berjauhan dengan mereka. Sangat bijaksana jika anda tulis konsepnya dulu. selesaikan konsep, diamkan semalam, lalu baca lagi keesokan harinya. Pastikan surat itu benar - benar mewakili maksud dan tujuan anda. segarnya pikiran dan emosi sering membuat kita bisa menyatakan sesuatu dengan lebih baik. Ingatlah, apa yang sekali anda tulis itu berpeluang tetap " hidup ' dalam jangka waktu lama. Pastikan anda siap dan bisa menangani setiap konsekuensi dari isi surat tersebut.

10. E-mail atau Voicemail . Teknologi banyak membantu dan memberi banyak pilihan bagi aktifitas komunikasi. Jika anda sulit untuk berkomunikasi lewat telepon atau surat, atau karena untuk beberapa alasan anda, pilihannya bisa lewat e-mail atau voicemail. Bisa saja e-mail atau pesan voicemail itu memukul balik anda jika orang yang anda tuju membiarkan saja pesan tersebut. Atau bahkan membiarkan orang lain mengetahui isinya. Tapi jika anda sugguh dan tulus, baik dalam setiap kata maupun tekanan suara, anda tak perlu terlalu takut. Jika anda pakai voicemail, sebaiknya anda membuat konsep pesan dulu. Waktu rekam sebaliknya 30 - 60 detik. Andapun bisa menelepon ulang untuk merampungkan pesan. Perhatikan betul tekanan nada suara anda.

11. Kirim Kartu atau Hadiah . Kirim bunga, kartu, permen, kue, buah - buahan, kalung dan berbagai hadiah lainnya adalah cara lama mengungkapkan apologi. Kartu bisa jadi alat yang sangat mengesankan. Kini banyak macam kartu dengan desain modern digunakan untuk aneka keperluan. Bila pakai kartu, jangan lupa bubuhkan catatn tulisan tangan. Sesuaikan dengan situasinya jika ingin menambahnya dengan hadiah. Kalau menyangkut orang terkasih, berikan "sentuhan" lain. Berikan apa yang benar - benar dia sukai. Beri dia sesuatu yang special. Sementara untuk rekan bisnis atas shabat, hadiah semata hanya pilihan. Mengajak mereka makan siang atau makan malam seperti lebih mengena.

12. Bertemu Muka Langsung . Bagi sebagian orang cara seperti bisa dianggap"mengerikan", layaknya melihat hantu. Merka merasa sulit jika harus melihat berbagai macam ekspresi orang yang kecewa. Namun, jangan berhenti hanya karena ketakutan. Hadapi mereka layaknya satu jenis"musik"yang tidak anda suka. Hilangkan ketakutan dengan bersikap rendah hati. Kerjakan saja apa yang menurt hati dan pikiran anda perlu dikerjakan. Orang akhirnya akan menghargai keberanian anda, bahkan diri anda sendiri akan sangat menghargai sikap itu. Tersenyum ramah, tertawa, menjabat tangan, memeluk, atau bermacam ekspresi keakraban dan kasih sayang lainnya akan sangat membantu.

13. Lewat Perantara . Sebenarnya ini tidak direkomendasikan. Apalagi bila masalahnya terlalu bersifat pribadi. Namun jika situasi tak memungkinkan, menyatakan permintaan maaf, bisa menggunakan alternatif ini. Apalagi bila permintaan maaf itu harus segera anda lakukan. Meski begitu, jangan berharap terlalu banyak terhadap cara ini dibanding cara lainnya.

14. Ganti Rugi . Katakan anda secara tidak sengaja memecahkan pot bungan antik tetangga, lalu apa yang akan anda lakukan ? Pertama, mengakui dan bertanggungjawab atas kerusakan. Kedua, menawarkan ganti rugi barang atau apa saja yang nilainya sama atas kerusakan tadi. Tapi, memperbaiki"kerusakan hati" atau mengganti"perasaan kecewa" jelas lebih sulit. Untuk mengatasinya, anda bisa minta maaf sekaligus bertanya apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaanya. Kadang jika dibarengi dengan tindakan konkrit, permintaan maaf bisa lebih diterima.

15. Maaf Terbuka. Untuk ini kita kadang butuh sarana publik untuk menyatakannya. Disini permintaan maaf tidak semata kepada orang bersangkutan, tapi perlu juga diketahui keluarga, para sahabat dan kolega bisnis. Hal ini bisa dilakukan lewat surat kabar, billboard, pidato di acara dinner gathering atau party dll. Cari ini sering dianggap lebih dramatik, karena memberi anda pengalaman dalam hal public exposure atau public speaking. Jadi, persiapkan diri anda sebaik mungkin, karena ini bukan cara sederhana.

9. Tindakan Nyata . Satu teknik melakukan kebaikan secara sungguh - sungguh bagi orang yang perlu dimintai maaf. Hubungi kolega bisnis anda supaya mereka mengirimkan karangan bunga, souvenir, mobil baru, lukisan, perabot antik atau apa saja yang dianggap sesuai dan berkenan. Kirimkan barang - barang itu ke tempat kerjanya atau ke alamat rumah. Jangan lupa, berilah alasan mengapa anda melakukannya. Supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman baru, tegaskan permohonan maaf anda bersamanya. Biasanya, tidakan nyata lebih terasa hasilnya dibanding kata - kata.

16. Waktu Jeda . Kadang anda merasa sudah melakukan banya cara untuk minta maaf, namun tetap saja terasa tidak cukup membawa hasil. Bisa saja orang bersangkutan terlalu kecewa atau memang tak berniat lagi menyambung relasi dengan anda. Jika ini terjadi, tinggalkan masalah itu. Orang memang butuh waktu untuk bisa memberi maaf atau bahkan sama sekali tidak mau memaafkan. Apapun alasanya ! Gunakan penilaian batin terdalam anda. Tinggalkan masalah dan kembalilah ke kehidupan normal. Katakan dalam batin, anda sudah mengambil tanggung jawab dan sudah melakukan yang terbaik

TIPS MENGHILANGKAN STRESS DAN MENGATASI CEMAS

Banyak kegiatan dapat membuat pikiran Anda penuh dengan perasaan dimana kita ingin memperoleh tujuan tersebut dengan tujuan tertentu. Dan bila kita berada di dalam keadaan yang memojokkan kita dan membuat tujuan kita belum atau tidak bisa diraih, kadang menjadikan beban di pikiran kita. Semakin lama kita menimbun beban tersebut, keadaan semakin sulit yang membuat kita frustasi atau stress.

Nah.. berikut adalah sedikit tips dari saya untuk menghilangkan stress. Ada 3 cara, yaitu :

1. Hiduplah di hari ini saja, maksudnya masa lalu tentu tidak bisa diubah, justru membuat semakin stress, sedangkan masa depan masih gaib.
2. Berperasaan Positif (positive feeling), dari bangun tidur jika sudah suntuk yakinkan diri setelah kesuntukan pasti ada kenyamanan.
3. Selalu yakin setelah sakit pasti sembuh, setelah sedih pasti gembira. Niscata segala pekerjaan akan menjadi fokus dan tentu saja positif.
4. Ridha, maksudnya adalah apabila Anda mengalami jalan buntu harus rela menerimanya dan mundur sesaat untuk dapat melihat jalan lain menuju tujuan tersebut.

Berikut adalah sedikit tips untuk mengatasi cemas yang saya cuplik dari buku Rahasia Cerdas Ibu Lifebuoy 2004 :

* Relaksasi. Terdengar klise, tapi sampai kini masih merupakan terapi paling efektif tanpa efek samping. Hanya dengan menarik napas panjang, tahan sejenak, lalu lepaskan perlahan dalam beberapa kali sudah bisa mempengaruhi otak Anda, sebagai pusat pengatur emosi.
* Bergeraklah. Sudah terbukti dari berbagai penelitian bahwa meski sekadar berjalan-jalan sebentar, mood sudah bisa diperbaiki. Bila sedang sedih, cemas, atau murung, jangan masuk ke dalam selimut, tapi kenakan sepatu yang nyaman dan hirup udara luar dengan berjalan-jalan.
* Dengarkan musik yang menenangkan. Musik-musik tanpa syair, bertempo lambat dari instrument dawai (gitar, harpa, biola), terbukti memiliki frekuensi yang dapat menyeimbangkan otak kiri dan kanan. Secara emosional membuat Anda lebih tenang.
* Menulis catatan harian. Sediakan waktu kira-kira 10 menit untuk mencurahkan perasaan Anda ke dalam tulisan. Tuliskan di sana hal-hal berikut :
o Situasu yang membuat Anda cemas
o Apa yang Anda pikirkan tentang situasi itu
o Apa yang Anda rasakan
o Gejala-gejala fisik yang Anda rasakan
o Lalu tentukan tindakan apa yang akan Anda lakukan untuk mengatasinya.
o Pertimbangkan konsekuensinya.
o Langkah selanjutnya adalah mengevaluasi kenyataan. Tidakkah pikiran Anda itu berlebihan? Apa bukti-bukti yang membenarkan pikiran itu? Lalu cobalah bersikap empati pada diri sendiri dengan menempatkan diri Anda sebagai orang lain dalam melihat masalah itu.

12 CARA MENGATASI KEMARAHAN

Rasulullah saww berkata, ”Maukah kalian kuberitahu orang yang paling menyerupaiku (pribadinya)?” Mereka (para sahabat) berkata,”Tentu, wahai Rasulullah!” Beliau mengatakan,”Yaitu orang yang paling baik akhlaknya, yang paling ‘sejuk’ naungannya, yang paling berbakti kepada kerabat-kerabatnya, yang paling besar cintanya kepada saudara-saudaranya, yang paling sabar dalam menetapi kebenaran, yang paling pemaaf, dan yang paling kuat kesadaran dirinya di saat ridha maupun di saat marah” (Bihar al-Anwar 66 : 306)

Kemarahan barangkali merupakan emosi yang paling buruk yang perlu ditangani. Dari waktu ke waktu kita semua pernah mengalami perasaan yang kuat ini. Beberapa penyebab umum kemarahan termasuk frustrasi, sakit hati, kejengkelan, kekecewaan, pelecehan, dan ancaman. Hal ini membantu kita untuk menyadari bahwa kemarahan bisa menjadi teman atau bisa menjadi musuh, bergantung pada bagaimana kita mengekspresikannya. Mengetahui bagaimana cara untuk mengenal dan mengekspresikan kemarahan dengan tepat, dapat menolong kita untuk mencapai tujuan-tujuan, dan mengatasi kemunculan-kemunculannya, memecahkan problem-problem dan bahkan melindungi kesehatan kita.

Bagaimanapun, kegagalan untuk mengenal dan memahami kemarahan kita, menggiring kita ke berbagai problem.

Beberapa ahli (psikolog) percaya bahwa kemarahan yang ditekan merupakan penyebab yang mendasari kecemasan dan depresi. Kemarahan yang tidak terekspresikan dapat mengganggu hubungan, mempengaruhi pikiran, dan pola prilaku, juga berbagai problem-problem fisik, seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung, kepala pusing, gangguan kulit dan masalah-masalah lain yang saling terkait. Apa yang bahkan lebih buruk adalah hubungan antara berbahayanya kemarahan yang tak terkontrol dengan kejahatan, emosi dan penganiayaan fisik serta prilaku-prilaku kekerasan lainnya. Redford Williams, seorang ahli penyakit dalam (internist) dan spesialis tentang prilaku (behavioral specialist) di Duke University Medical Center, Amerika Serikat telah mengembangkan sebuah program 12-langkah yang dapat menolong orang untuk belajar mengatasi emosi-emosi amarahnya.

Williams menyarankan memantau pemikiran Anda yang cenderung sinis karena mempertahankan atau memelihara “sebongkah permusuhan”. Hal ini akan mengajarkan Anda tentang keseringan dan jenis-jenis situasi yang memprovokasi Anda. Carilah dukungan dari orang-orang penting dalam hidup Anda untuk mengatasi perasaan Anda dan mengubah pola prilaku Anda.

Dengan memelihara “sebongkah rasa permusuhan” Anda, Anda dapat menyadari kapan dan di mana Anda memiliki pemikiran-pemikiran yang agresif, sehingga ketika Anda menemukan diri Anda dalam situasi seperti ini, Anda dapat menggunakan teknik-teknik seperti :

1. Mengambil napas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan-lahan
2. Berdzikir dengan menyebut nama-nama Allah Yang Indah
3. Menghentikan memikirkan hal yang membuat hati Anda menjadi panas. Hal ini dapat menolong Anda menghentikan siklus kemarahan Anda.
4. Letakkan diri Anda di dalam “sepatu” orang lain. Empati mungkin akan menambah perspektif yang berbeda. 5. Jagalah di dalam pikiran, bahwa kita semua adalah manusia, yang bisa melakukan kesalahan.
6. Pelajari bagaimana menertawai diri Anda sendiri dan menemukn humor dalam berbagai situasi.
7. Pelajari juga bagaimana cara menjadi relaks atau santai.
8. Walaupun mungkin Anda pernah mendengar bahwa mengekspresikan kemarahan itu lebih baik daripada memendamnya, namun ingatlah bahwa amarah yang sering dilampiaskan sering bertentangan dengan hasil yang diharapkan dan bisa membuat kita diasingkan oleh banyak orang.
9. Hal penting lainnya adalah bahwa Anda perlu mempraktikkan “percaya pada orang lain”. Adalah biasa jika kita lebih mudah marah ketimbang percaya, namun dengan mempelajari bagaimana mempercayai orang lain, Anda akan dapat mengurangi amarah Anda yang langsung kepada mereka.
10. Ketrampilan ‘mendengarkan dengan baik’ akan meningkatkan komunikasi dan dapat memfasilitasi rasa percaya di antara orang-orang. Kepercayaan ini dapat membantu Anda dalam mengatasi emosi-emosi permusuhan yang potensial; menguranginya bahkan mungkin mengenyahkannya.
11. Pelajari juga bagaimana Anda menegaskan diri Anda sendiri. Hal ini merupakan sebuah pilihan yang konstruktif. Ketika Anda menemukan diri Anda marah pada seseorang, coba jelaskan kepada mereka apa yang mengganggu Anda tentang prilaku mereka dan mengapa Anda mesti marah kepada mereka.
Anda membutuhkan kata-kata dan kerja yang lebih untuk menjadi tegas ketimbang harus memperlihatkan kemarahan Anda, namun ganjaran yang akan Anda peroleh menjadi seimbang. Andai kita menyadari semua ini, maka kita akan merasakan bahwa hidup ini terlalu singkat, jika kita hanya selalu marah pada segala hal.
12. Langkah terakhir memerlukan permintaan maaf kepada orang yang Anda telah marah kepadanya. Dengan membiarkan pergi kebencian dan melepaskan tujuan balas jasa atau ganti rugi, Anda akan merasakan bahwa beban berat berupa kemarahan telah terangkat dari pundak Anda.

Joan Lunden, pengasuh rubrik kesehatan majalah Healthy Living Magazine mengatakan “Holding on to anger, resentment and hurt only gives you tense muscles, a headache and a sore jaw from clenching your teeth. Forgiveness gives you back the laughter and the lightness in your life.” –

Tahanlah kemarahan (Anda), kekesalan dan rasa sakit hati Anda, yang membuat otot Anda tegang, sakit kepala dan rahang yang tegang karena gemeretak gigi Anda. Pemberian maaf mendatangkan kembali tawa dan pencerahan dalam hidup Anda.

CARA MARAH YANG POSITIF

Seringkali kita melepaskan perasaan marah dengan tindakan-tindakan yang negatif. Entah itu dengan cara membanting pintu, piring, gelas, ataupun barang yang sedang kita pegang. Atau banyak juga yang melampiaskan kemarahan dengan melakukan tindakan negatif lainnya, seperti mabuk, kebut-kebutan, merokok, dan yang lebih parah kita justru melampiaskan kemarahan pada orang yang tidak bersalah ( maksudnya orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah yang sedang kita alami).

Pada postingan ini saya mengajak Anda untuk membahas lebih dalam tentang kemarahan. Khususnya menemukan bagaimana cara ampuh dalam mengubah kebiasaan marah yang buruk menjadi kebiasaan marah yang baik.

Apa yang memicu kemarahan dalam diri kita?

Marah biasanya dipicu karena ada masalah atau konflik. Jika kita tidak pernah menemui masalah artinya kita tidak akan mencapai kedewasaan. Semakin banyak kita menghadapi masalah dan dapat menyelesaikan dengan baik, berarti kita telah menuju proses pendewasaan. Namun seringkali masalah yang kita alami membuat kita capek, bosan, jenuh dan akhirnya memaksa perasaan marah itu meledak.

Apakah marah dapat dikendalikan?

Sepertinya untuk mengendalikan kemarahan itu sangat sulit jika kita tidak pernah mencoba untuk mengendalikannya. Saya yakin kemarahan dapat di kontrol dengan baik jika ada kemauan. Sebesar apapun masalah yang kita alami jika dihadapi dengan kemarahan pasti akan menimbulkan masalah baru. Oleh karena itu kita harus belajar mengendalikan perasaan marah dengan usaha keras.

Bagaimanakah cara marah yang postif itu?

Cara mengekspresikan perasaan marah secara positif yang saya lakukan adalah menulis dalam blog. Saya mengugkapkan perasaan marah ini ke dalam tulisan, dan sepertinya cukup memberi dampak pada kondisi psikis saya. Saya mulai bisa mengampuni orang-orang yang telah membuat saya marah, dan saya juga mulai bisa menelusuri letak kesalahan yang telah saya lakukan maupun orang lain yang telah membuat saya marah. Saya kira tindakan semacam ini adalah respon postif terhadap perasaan marah yang sedang meledak.

Saya kira Andapun bisa melakukan hal semacam ini. Jika Anda tidak suka menulis seperti saya maka Anda dapat mengerjakan apa yang menjadi kegemaran(hoby positif) Anda ketika sedang marah, misalnya mancing, membaca, jalan-jalan, futsal, badminton, ataupun mendengarkan musik. Megalihkan kemarahan kedalam tindakan yang positif semacam ini akan dapat memberikan dampak yang baik pula kedalam diri kita.

Tidak larut dalam keramarahan sepertinya juga tindakan yang positif. Marah boleh tetapi diusahakan jangan sampai lebih dari 24 jam. Jika lebih dari itu artinya kita sudah menyimpan dendam. Jangan belama-lama memendam perasaan marah, karena justru akan merugikan diri kita dan orang lain.

Jadi agar kemarahan tidak memberikan dampak yang lebih buruk, marilah kita mencoba untuk mengampuni/memaafkan, mengalihkan perhatian ke hal-hal yang postif, dan tidak berlarut-larut dalam kemarahan.

MEMBUJUK

Membujuk adalah salah satu kemampuan paling penting yang diperlukan seseorang untuk membuat orang lain mengikuti kehendaknya. Kemampuan ini tak hanya dapat diterapkan di dunia kerja, tetapi juga di rumah, atau dalam kehidupan sosial lainnya. Mungkin Anda melihat tidak semua orang diberi kemampuan ini, namun sebenarnya membujuk bisa dipelajari.

Dengan mempelajari trik persuasi, Anda juga mengetahui kapan seseorang berusaha mempengaruhi Anda. Menurut Jay White, penulis kolom di DumbLittleMan.com, salah satu keuntungan terbesar yang akan Anda peroleh dengan memiliki kemampuan ini adalah, Anda tak akan kehilangan uang begitu Anda menyadari seorang petugas penjualan mendesak Anda membeli sesuatu yang tak Anda perlukan.

Inilah sembilan trik yang dapat Anda terapkan untuk dapat membujuk dan mempengaruhi orang lain:

1. Bercermin dengan orang lain. Lakukan hal ini dengan menirukan gerakan tangan, membungkukkan badan ke depan atau belakang, atau berbagai gerakan kepala dan lengan lainnya. Kadang-kadang kita melakukannya tanpa sadar, namun bila Anda menyadarinya, pelajari lebih lanjut. Beberapa hal yang perlu diingat adalah Anda harus melakukannya dengan halus, dan buat jeda sekitar 2-4 detik antara gerakan orang tersebut dengan gerakan Anda.

2. Kelangkaan. Inilah yang paling sering dilakukan seorang pembuat iklan. Kesempatan memiliki sesuatu terlihat sangat menarik ketika persediaan begitu terbatas. Hal ini akan berguna untuk orang yang memang sedang membutuhkan, namun yang lebih penting, inilah metode persuasi yang harus diwaspadai. Berhentilah, dan pertimbangkan seberapa sering Anda dipengaruhi berita bahwa sebuah produk sedang langka? Jika memang produk itu langka, tentu akan ada banyak permintaan untuk barang tersebut bukan?

3. Membalas budi. Ketika seseorang berbuat baik pada kita, kita sering merasa dituntut untuk melakukan sesuatu untuknya. Jadi, jika Anda ingin seseorang melakukan sesuatu untuk Anda, Anda bisa memberikan sesuatu yang baik untuknya lebih dulu. Di lingkungan rumah, misalnya, Anda bisa menawarkan untuk meminjamkan peralatan memasak, tangga, atau apa pun, kepada tetangga yang terlihat sedang membutuhkan. Tidak masalah kapan, atau dimana Anda melakukannya, kuncinya adalah menghargai hubungan yang ada.

4. Waktu yang tepat. Orang cenderung setuju atau menurut pada Anda ketika mereka merasakan kelelahan secara mental. Sebelum Anda meminta sesuatu pada seseorang yang mungkin tidak akan langsung disetujuinya, cobalah untuk menunggu sampai ada kesempatan dimana mereka baru saja melakukan sesuatu karena terdesak. Temui dia saat hendak pulang dari kantor, dan katakan apa yang Anda mau. Seringkali jawabannya adalah, "Besok deh, aku kerjakan."

5. Keserasian. Teknik ini kerap digunakan para petugas penjualan. Seorang salespeople akan menjabat tangan Anda saat sedang bernegosiasi. Dalam benak kebanyakan orang, berjabat tangan artinya bersepakat, sehingga dengan melakukannya sebelum kesepakatan tercapai, petugas sales seolah sudah mendapatkan transaksi yang ia inginkan. Cara yang tepat untuk melakukannya pada kegiatan sehari-hari adalah membuat seseorang bertindak sebelum mereka memutuskan. Misalnya, Anda mengajak seorang teman jalan-jalan, dan Anda ingin menonton film (padahal sang teman sedang tidak ingin). Anda bisa langsung mengajaknya ke bioskop sementara teman Anda sedang membuat keputusan akan menonton atau tidak.

6. Obrolan yang cair. Saat sedang berbicara, seringkali kita menggunakan frasa seperti "Mm..." atau "Maksud saya..." dan kata-kata lain yang menimbulkan jeda di tengah pembicaraan. Hal seperti ini sebenarnya menunjukkan rasa kurang percaya diri kita, yang dengan sendirinya membuat kita kurang persuasif. Jika Anda yakin dengan apa yang Anda katakan, orang lain pun akan mudah terbujuk dengan apa pun yang Anda katakan.

7. Menggiring. Kita semua terlahir menjadi pengikut. Kita sering memperhatikan apa yang dilakukan orang lain sebelum kita bertindak, karena kita membutuhkan penerimaan dari orang lain. Secara sederhana, cara efektif untuk menggunakan kebiasaan ini adalah dengan menjadi pemimpin, membuat orang lain mengikuti Anda. Misalnya, Anda sedang menghadiri seminar, dan memilih duduk di tengah-tengah. Begitu seminar dimulai, sang MC meminta hadirin untuk mengisi bangku-bangku kosong di depan. Nah, cobalah untuk menjadi orang pertama yang menggiring orang lain untuk menempati bangku tersebut.

8. Benefit. Tunjukkan pada orang lain apa keuntungan bagi mereka jika melakukan tindakan yang Anda sarankan ini. Namun perhatikan apa yang Anda sampaikan. Anda harus mengatakannya dengan optimis, mendorong, dan menyenangkan mereka. Sikap pesimis dan mengkritik tidak akan membantu. Coba ingat bagaimana Obama memenangkan pemilu akhir tahun lalu. Kata kuncinya adalah "Yes, we can!". Mengatakan hal-hal buruk tentang orang lain, seperti yang dilakukan John McCain, tidak akan membuat orang bersimpati.

9. Teman-teman dan penguasa. Kita cenderung akan mengikuti atau terbujuk oleh seseorang yang berada di posisi yang lebih tinggi. Ini menjadi contoh yang baik untuk waspada akan "serangan" persuasif yang sedang dilakukan terhadap Anda. Di pihak lain, menjadi cara yang baik pula bagi Anda untuk melakukannya pada orang lain karena Anda akan terkejut betapa mudah membuat orang menyukai Anda dan memperoleh kekuasaan di antara kelompok Anda.




SELAMAT MENCOBA KAWAN.....

TEKNIK MEMPENGARUHI ORANG

Saya bukan orang yang berpengaruh, itu sudah pasti, karena saya tidak punya apa-apa? Bukan konglomerat, bukan pejabat elit,tapi saya hanya seorang mahasiswa UM jurusan matematika. Yang pasti ada yang menarik, bahwa sebenarnya orang lain terpengaruh dengan kita, bukan hanya karena kedudukan atau kekayaan kita, tapi masih banyak faktor lain sehingga sampai pada kondisi dimana kita bisa mempengaruhi orang lain. Bahasa gampangnya, bagaimana sih cara mempengaruhi orang lain? Itu yang akan kita bahas kali ini.

Bagaimanapun juga pemahaman terhadap teknik mempengaruhi (influence tactics) orang lain menjadi satu spektrum penting, tidak hanya untuk seorang politikus, tetapi juga untuk para pemimpin baik formal maupun informal, pelatih bola, saleman. Usaha mengubah sikap, opini, dan perilaku orang lain (target person) dalam satu kerangka proses yang fitrah, smooth dan tanpa pertentangan, adalah muatan penting dari taktik atau teknik mempengaruhi.

Sebenarnya taktik mempengaruhi orang lain telah diformulasikan oleh banyak pakar dan peneliti, tentu bukan di desain untuk mempengaruhi orang dalam perbuatan kejahatan ;) . Pelakunya diharapkan tetap ada dalam rel kebenaran, dan diimplementasikan ke dalam spektrum berpikir menuju kepemimpinan yang efektif (effective leadership). Misalnya dalam manajemen organisasi, dimana seorang manajer dituntut untuk mengajak seluruh elemen organisasi bersama-sama dalam menyelesaikan permasalahan organisasi, menuju tujuan organisasi yang ingin dicapai. Seorang pelatih dan manajer bola yang memimpin pemain-pemain kelas dunia dan ingin mereka semua bisa bersatu, berdjoeang memenangkan pertandingan.

Beberapa teori dan formulasi tentang taktik atau teknik mempengaruhi telah bermunculan sejak 20 tahun yang lalu (Kipnis-1980; Schriesheim-1990; Yukl-1992, Ferris-1997). Dari perseteruan pendapat yang ada, boleh dikata yang banyak diterapkan dan dimutasikan dalam penelitian lanjutan adalah metode Influence Behavior Questionanaire (IBQ). Suatu metode yang dikembangkan oleh peneliti yang bernama Gary Yukl (1992), professor di University at Albany, Amerika. Metoda IBQ memformulasikan 9 strategi dan teknik mempengaruhi orang lain.

Rational Persuasion: Adalah siasat meyakinkan orang lain dengan menggunakan argumen yang logis dan rasional. Seorang dokter yang memberi nasehat kepada pasien yang perokok berat, dengan menjelaskan efek buruk merokok bagi paru-paru dan hasil penelitian yang membuktikan bahwa para perokok lebih rentan menderita penyakit kronis lain. Adalah salah satu contoh rational persuasion ini.

Inspiration Appeals Tactics: Adalah siasat dengan meminta ide atau proposal untuk membangkitkan rasa antusias dan semangat dari target person. Contoh nyata penerapannya adalah, seorang menteri yang membawahi departemen komunikasi dan informasi (kominfo), yang membuka kesempatan kepada seluruh komunitas IT untuk membuat proposal dan ide tentang pengembangan e-government di suatu negeri.

Consultation Tactics: Terjadi ketika kita meminta target person untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang kita agendakan. Misalnya adalah menteri kominfo diatas yang kembali berkonsultasi kepada seluruh komunitas IT di suatu negeri dalam upaya mengajak partisipasi aktif dalam implementasi cetak biru e-government yang telah diproduksi oleh departemennya.

Ingratiation Tactics: Adalah suatu siasat dimana kita berusaha untuk membuat senang hati dan tentram target person, sebelum mengajukan permintaan yang sebenarnya. Sendau gurau seorang salesman terhadap langganan, pujian seorang pimpinan terhadap bawahan sebelum memberi tugas baru, ataupun traktiran makan seorang partner bisnis adalah termasuk dalam ingratiation tactics ini.


Personal Appeals Tactics: Terjadi ketika kita berusaha mempengaruhi target person dengan landasan hubungan persahabatan, pertemanan atau hal yang bersifat personal lainnya. Kita bisa mengimplementasikannya dengan memulai pembicaraan misalnya dengan, “Budi, saya sebenarnya nggak enak mau ngomong seperti ini, tapi karena kita sudah bersahabat cukup lama dan saya yakin kamu sudah paham mengenai diri saya …”

Exchange Tactics: Adalah mirip dengan personal appeal tactics namun sifatnya adalah bukan karena hubungan personal semata, namun lebih banyak karena adanya proses pertukaran pemahaman terhadap kesukaan, kesenangan, hobi, dsb. diantara kita dan target person.

Coalition Tactics: Adalah suatu siasat dimana kita berkoalisi dan meminta bantuan pihak lain untuk mempengaruhi target person. Strategi kemenangan karena jumlah pengikut dipakai dalam siasat ini.

Pressure Tactics: Terjadi dimana kita mempengaruhi target person dengan peringatan ataupun ancaman yang menekan. Seorang komandan pasukan yang memberi ancaman penurunan pangkat bagi prajuritnya yang mengulangi kesalahan serupa. Adalah contoh implementasi pressure tactics ini.

Legitimizing Tactics: Adalah satu siasat dimana kita menggunakan otoritas dan kedudukan kita untuk mempengaruhi target person. Presiden yang meminta seorang menteri untuk menyusun rancangan undang-undang, kepala sekolah yang meminta guru menyusun kurikulum pendidikan adalah beberapa contoh penerapan legitimizing tactics.




satu lagi utuk HMI.....

Sabtu, 12 Desember 2009

Politisasi Penegak Hukum

Ada kisah sukses, tantangan, dan hambatan dalam pemberantasan korupsi.

Sukses harus dikelola dan disebarluaskan agar kepercayaan publik meningkat. Tantangan harus dijadikan spiritualitas untuk bekerja all out, prudent, profesional dengan integritas tinggi. Hambatan harus dieradikasi, ditekan, dimasalahkan agar tidak berkembang, tidak merusak dan membuat pemberantasan korupsi kian kehilangan arah.

Konferensi Internasional ke-13 Antikorupsi yang dihadiri 135 negara baru saja digelar di Athena, 30 Oktober-2 November 2008. Agenda yang diangkat, ”Corruption and Sustainable Development”, dengan tema beragam, mulai dari penyebab dan dampak korupsi terkait krisis keuangan, sumber daya alam dan energi, perubahan cuaca, hingga globalisasi korupsi.

Isu yang mendapat perhatian serius terkait peningkatan kualitas ancaman, intimidasi, dan harassment yang harus dihadapi para pegiat antikorupsi. Hal ini terkait kelemahan kerangka hukum dan keterbatasan ruang gerak masyarakat sipil untuk mengontrol penggunaan kewenangan penegak hukum yang potensial abuse of power.

Pertemuan kepentingan

Konferensi juga memberi perhatian Nuhu Ribadu, mantan Ketua Economic and Financial Crimes Commission (EFCC) Nigeria yang dikenal profesional dan menjaga integritas dalam menjalankan tugasnya. Dalam kesimpulan, konferensi meminta Pemerintah Nigeria dan komunitas global antikorupsi mengambil tindakan segera atas ancaman dan tindak kekerasan fisik yang bisa dilakukan terhadap Nuhu.

Kondisi itu, pada sebagian negara—khususnya yang belum mampu mencegah aparaturnya dari politik uang, kepentingan privat dan sepihak penegak hukum—punya modus sama dengan pola agak berbeda. Ancaman kekuasaan bagi pegiat antikorupsi dilakukan kekuasaan dan lembaga penegak hukum yang melakukan instrumentasi hukum dengan menggunakan kewenangan jabatan publiknya. Ini tindakan berbahaya karena bisa dilakukan secara sistematis dan berdaya rusak tinggi.

Pada proses itu, tidak hanya potensial terjadi enginering pada saksi dan bukti, tetapi juga dilakukan kampanye ”terselubung” untuk membangun justifikasi bahwa apa yang dilakukan untuk dan atas nama hukum dan kepentingan negara.

Pada konteks itu terjadi politisasi penegakan hukum, dengan melakukan instrumentasi hukum, mulai dari penyidikan hingga pengadilan, bisa karena masalah yang bersifat personal atau social jealous kelembagaan.

Penyebab yang amat mengkhawatirkan adalah bertemunya kepentingan para koruptor dan konglomerat hitam yang dananya tak terbatas, memiliki akses dan relasi politik yang kuat dengan kepentingan ”naif” dari aparatur dan lembaga penegakan hukum.

Indonesia beruntung mempunyai KPK dan pegiat antikorupsi. Namun, beban KPK menjadi amat berat karena masifitas korupsi yang amat luas. Aparat, pimpinan KPK, dan pegiat antikorupsi berpotensi dijadikan ”Nuhu Ribadu” bila tidak ditopang peningkatan integritas lembaga penegakan hukum lainnya.

Indonesia belum bebas

De facto, Indonesia belum bebas dan masih rentan karena potensial terjangkit sindrom politisasi penegakan hukum. Ketika pemerintahan otoriter berkuasa, politisasi penegakan hukum biasa terjadi. Dalam pemerintahan reformasi yang sedang pada tahap transisi politik, perilaku koruptif bisa menjadi virus politisasi penegakan hukum dengan kualitas yang mungkin lebih ”dahsyat”. Asumsinya, kejahatan selalu bermetamorfosis membangun modus baru kejahatan dengan daya rusak kian tinggi. Metode kerja yang lebih civilized dan legal nuance menjadi salah satu strategi yang dilakukan.

Indikasi lain politisasi dapat dilihat dari pilihan kasus yang ditangani penegak hukum. Khususnya, bila lembaga penegak hukum terus menghindar untuk menangani kasus-kasus yang berdampak besar bagi kemaslahatan rakyat. Pada konteks Indonesia, upaya sengaja dan sistematis yang tidak menangani BLBI yang jelas menghancurkan sistem finansial dan kebangkrutan pemerintahan adalah indikasi politisasi hukum, apalagi jika penegak hukum bersikap menjadi ”pembela” para obligor nakal dan konglomerat hitam yang merugikan rakyat, bangsa, dan negara. Juga termasuk, lembaga penegak hukum yang mencari-cari kasus dan kesalahan perkara yang masih debatable untuk dituduhkan sebagai tindak korupsi.

Fundamental Hukum

Ada kekhawatiran, kehidupan berhukum bangsa kita bukannya membaik, melainkan semakin memburuk. Kita mengira, dengan menggenjot produk perundang-undangan dan memperbaiki institut-institut hukum, hukum di Indonesia akan menjadi lebih baik. Ternyata obat untuk menghentikan kemerosotan hukum tidak di situ.

Setelah bangsa ini terbentur ke sana-kemari dalam berhukum dan mengoperasikan negara hukum Indonesia, maka kita pantas mulai bertanya, ”Sudah benarkah fundamental hukum kita?” dan, ”Sebenarnya, kuatkah fundamental hukum kita?” Kita cuplik dunia korupsi di negeri ini sebagai sampel.

Pemerintahan Presiden Habibie membanggakan telah memproduksi sekian puluh undang-undang selama pemerintahannya. Bangsa ini juga serius memberantas korupsi dengan memperbarui dan memperbarui lagi undang-undang korupsi. Juga disiapkan lembaga untuk itu, seperti Pengadilan Korupsi dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang memiliki kewenangan istimewa itu.

Ternyata, jaring yang bagaimanapun kuatnya tidak mampu menjaring koruptor dengan efektif. Jaring itu jebol ditabrak koruptor, bahkan kini mereka berada di seluruh penjuru Tanah Air.

Hakim Agung pun dicoba disuap. Jaksa yang konon jempolan pun akhirnya dibuat bertekuk lutut di ujung telepon. Terakhir diberitakan, seorang arsitek dan pendekar antikorupsi yang gigih didakwa melakukan korupsi.

Belajar mencari tahu

Dari pengalaman Indonesia selama 60 tahun lebih, kini kita sebaiknya belajar untuk mencari tahu lebih baik di mana sebetulnya fundamental hukum itu. Sekarang, kita sebaiknya dengan lebih cerdas mengatakan, fundamental itu ternyata bukan terletak pada substansi dan struktur, tetapi pada sesuatu yang lain. Kemerosotan hukum memberi berkah untuk merenung, bertafakur, melakukan kontemplasi tentang fundamental hukum kita.

Kita akhirnya sadar, hukum itu akhirnya menyangkut perilaku manusia. Semua perbaikan substansi, sistem dan struktur, bahkan profesionalisme menjadi tidak berarti apabila kita mengabaikan faktor perilaku manusia.

Urusan hukum itu berhubungan dengan perilaku manusia. Di sinilah kita khilaf mengenali fundamental hukum. Cacat dalam melihat fundamental hukum berakibat luas, seperti yang kita alami sekarang.

Jika kita membuat neraca dari begitu banyak opini publik, maka neraca kehidupan hukum itu ternyata berat ke perilaku manusia. Terakhir, mantan Hakim Agung Adi Andojo Soetjipto yang cukup legendaris itu mengeluh tentang masalah harga diri manusia Indonesia, tidak tentang sistem dan lain-lainnya (”Bangsa yang Kehilangan Harga Diri”, Kompas, 13 November 2008).

Advokat senior Amerika, Gerry Spence, menulis lebih ”kejam” lagi tentang dunia berhukum di Amerika Serikat. Katanya, kalau Anda punya masalah hukum di Amerika, jangan datang ke advokat, tetapi ke juru rawat. Alasannya, juru rawat itu memang dididik dan dilatih untuk peduli terhadap dan menyayangi manusia yang menderita.

Menurut Spence, sejak mahasiswa hukum menginjakkan kaki memasuki law schools, mereka itu sudah dirampas dan ditumpulkan rasa perasaan manusianya dan yang diburu adalah kompetensi profesional. ”Apa gunanya pelana kuda berharga ribuan dollar jika hanya akan dipasang di punggung kuda yang harganya hanya satu dollar?” Begitu kasar komentar Spence terhadap dunia berhukum di Amerika Serikat. Kritik Spence itu memperkuat pendapat, hukum itu menyangkut manusia.

Terkait budi pekerti

Sebelum keadaan menjadi lebih parah lagi, sebaiknya mulai sekarang kita mengubah pendapat dan pandangan kita mengenai fundamental hukum itu. Fundamental hukum itu berhubungan dengan hidup dan budi pekerti baik, seperti kejujuran, bisa dipercaya, menghormati orang lain, dan pengendalian diri. Inilah fundamental hukum sebenarnya.

Selama ini (seperti juga di Amerika) kita telah salah memahami fundamental hukum. Fakultas-fakultas hukum kita juga lebih mengejar profesionalitas, mengembangkan soft skills agar dapat bersaing di pasar pekerjaan. Belum ada mata kuliah seperti ”mengasihi dan menolong manusia-yang-lagi-susah” dalam kurikulum hukum. Pendidikan hukum yang baik adalah pendidikan budi pekerti, bukan menjejali orang dengan sistem dan peraturan.

Hanya dengan menggenjot budi pekerti yang baik sebagai fundamen, semoga kita berhasil membangun suatu negara hukum yang menyejahterakan dan membahagiakan rakyat.

Intelektual Muslim Indonesia

Intelektual (atau juga populer dengan istilah 'cendekiawan') Muslim Indonesia memiliki sejarah yang panjang. Agaknya menarik untuk melihat bagaimana pandangan orang luar mengenai berbagai aspek kaum intelektual Muslim Indonesia, dan khususnya tentang peranan mereka. Tidak hanya dalam kehidupan keislaman di Tanah Air, tetapi juga dalam kehidupan sosial, politik, dan kenegaraan Indonesia.

Dalam kaitan itu, buku karya Howard M. Federspiel, Indonesian Intellectuals of the 20th Century (Singapura: ISEAS, 2006) menjadi sebuah literatur penting, meski ia hanyalah sebuah buku yang relatif tidak tebal. Federspiel adalah guru besar emeritus pada Ohio State University, yang juga lama berkecimpung pada Institute of Islamic Studies, Mc Gill University, Montreal, Kanada. Federspiel lama pula dikenal sebagai Indonesianis yang meneliti dan menulis tentang wacana dan gerakan Persatuan Islam (Persis).

Pembicaraan tentang intelektual Muslim mestilah dimulai dengan perjalanan historis tradisi intelektual Islam yang jelas sangat kaya. Kemunculan mereka terkait perkembangan pusat-pusat keagamaan, keilmuan, dan kebudayaan Muslim. Dan di Indonesia, kemunculan kaum intelektual itu bisa dilacak bakan sejak pembentukan masyarakat Muslim dan kekuatan politik Islam sejak abad ke-15, 16, 17, dan seterusnya; masa-masa kejayaan berbagai kesultanan di Indonesia.

Tapi, siapakah yang sebenarnya orang atau kaum intelektual itu. Ini merupakan perdebatan yang panjang di kalangan para ahli. Tetapi, Federspiel mengartikan 'intelektual' sebagai orang-orang yang bergumul dengan nilai-nilai masyarakat, bangsa, atau kemanusiaan. Seorang intelektual adalah orang yang peduli pada dinamika dan perkembangan masyarakat, dan berusaha memberikan panduan tentang bagaimana seharusnya nilai-nilai yang luhur bisa terwujudkan dalam kehidupan.

'Intelektual' Muslim dengan karakter seperti itu --seperti dikemukakan Federspiel-- hampir selalu transenden di atas berbagai masalah agama, sosial, kebudayaan, dan politik. Dia sebaliknya, memusatkan minat dan perhatiannya pada tujuan bagaimana agama dapat lebih fungsional dalam masyarakat Muslim. Intelektual adalah orang yang memiliki pandangan dan misi tertentu, yaitu membuat nilai dan pelajaran Islam dapat bekerja baik dalam berbagai tren sosial, budaya, politik, dan sebagainya.

Sebab itu, 'intelektual' atau cendekiawan bukanlah orang yang 'berumah di atas angin', yang jauh terasing dari masyarakatnya; yang sibuk dengan pengembaraan wacana dan intelektualisme belaka. Sebaliknya, justru ia selalu mengorientasikan intelektualisme atau kecendekiawanannya untuk kepentingan masyarakatnya.

Dari perspektif ini, maka 'intelektual' berbeda dengan 'sarjana' (scholar) atau 'intelegensia', yakni orang yang lebih sibuk semata-mata dengan pencarian dan pengembaraan keilmuan dan akademis, yang bukannya tidak sering sangat sempit. Meski begitu, banyak juga 'sarjana' atau 'inteligensia' adalah juga intelektual sekaligus, ketika mereka dapat keluar dari kungkungan minat keilmuan yang sempit tersebut.

Federspiel juga membuat pembedaan antara 'intelektual' dan 'sarjana' dengan 'pemimpin' (leader), yang memiliki keinginan dan kemampuan memobilisasi massa apakah untuk kepentingan dirinya sendiri atau kelompok tertentu. Dalam pengamatan saya, sering sekali, 'pemimpin' terkait dengan politik apakah langsung atau tidak. Pemimpin seperti itu tidak jarang pula berasal dari lingkungan intelektual; mereka adalah intellectual turned-politician, yang dapat kehilangan karakter dan watak intelektualnya.

Dalam kesimpulan Federspiel, wacana intelektual Muslim Indonesia modern merupakan salah satu arus utama pemikiran keagamaan dan politik negeri ini sejak awal abad ke-20. Karena itu, penciptaan dan penguatan negara-bangsa Indonesia selalu menjadi fokus pokok pemikiran dan wacana mereka. Tetapi penting dicatat, tulis Federspiel, konstruk intelektualisme mereka hampir sepenuhnya konsisten dengan pandangan-pandangan (notions) yang telah mentradisi dalam sejarah intelektual Suni.

Federspiel benar. Tetapi, konstruk intelektualisme mereka tidak selalu bisa dipahami sepenuhnya oleh kalangan masyarakat Muslim Indonesia sendiri. Dalam perjalanan sejarah intelektual Muslim Indonesia, bahkan tidak jarang kalangan Muslim tertentu mempersoalkan konstruk dan wacana intelektualisme mereka; bukan tidak sering, pemikiran mereka malah diplesetkan dan dipelintir. Apa yang sebenarnya tidak mereka katakan dan maksudkan, dipelintir sedemikian rupa guna menciptakan kesan di depan publik Muslim, bahwa intelektual Muslim tersebut telah 'menyimpang'.

Menghadapi hal seperti itu, tampaknya banyak intelektual Muslim Indonesia lebih banyak bersabar dan mengurut dada. Memang, melayani pandangan dan sikap yang lebih didasari bias dan su' al-dzan hanyalah tindakan kontraproduktif.




Satu lagi untuk HMI....

Penafsiran Baru Atas Al-Qur’an

Banyak cara dapat digunakan untuk menafsirkan kitab suci al-Qur’an al-Karim. Seorang mubaligh yang sudah meninggal dunia di Jawa Timur mengatakan dalam ‘kenakalan’ yang dibuatnya, di samping ‘Tafsir al-Jalalain’, sebuah kitab tafsir yang sangat populer dan digunakan hampir semua pondok pesantren, ada ‘Tafsir Jalan Lain’ yang dikembangkan olehnya. Dengan cara bergurau seperti ini, ia melakukan sesuatu hal yang memang diperlukan dalam “memahami” kandungan kitab suci tersebut. Dalam arti memahami kebutuhan akan perubahan-perubahan makna yang “ditentukan” oleh keadaan. Ini sesuai dengan firman Allah sendiri, yang menyatakan: “Hari ini Ku sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan Ku sempurnakan atas kalian nikmat Ku dan telah Ku ridloi bagi kalian Islam sebagai agama” (Al-yauma akmaltu lakum dinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’mati wa radhitu lakum al-islama dinan).

Dalam hal ini, ada dua buah prinsip yang selalu digunakan oleh para penulis muslim ‘modern’, yaitu yang berbunyi: “Ajaran Islam sesuai dengan tiap tempat dan waktu” (Al-islam yashluhu li kulli zamanin wa makanin) dan dalam teori hukum Islam (ushul fiqh) juga menyebutkan adanya “adat istiadat yang dihukumkan“(Al-adatu muhakkamah). Dengan menggunakan dua hal ini, di samping ayat yang disebutkan di atas, banyak penulis muslim dan penceramah agama membuat uraian tentang ‘pemahaman baru’ mengenai isi dan kandungan kitab suci tersebut. Tentu saja ‘penafsiran ulang’ seperti itu tidak boleh melawan pandangan yang sudah ada, atau dengan ‘maksud aneh’ yang telah berkembang selama berabad-abad lamanya. Ini tidak boleh kita lupakan sama-sekali, kalau diinginkan “penerimaan” cukup luas.

Salah satu upaya memahami kandungan kitab suci itu, adalah upaya penulis untuk ‘memulai’ pemahamannya melalui apa yang penulis sebut sebagai ‘tafsir baru’. Umpamanya saja, penulis memahami firman Allah: “Telah membuat kalian lupa kebiasaan berbanyak. Hingga kalian memasuki liang kubur” (Al-hakumu al-takatsur. Hatta zurtumu al-maqobir). Pada umumnya, kebiasaan berbanyak-banyak (al-takatsur) dalam ayat tersebut diartikan berbanyak-banyak anak atau harta. Namun dalam pandangan penulis, istilah tersebut dapat juga berlaku bagi upaya memperbanyak perolehan suara dalam pemilu, tanpa menggunakan etika yang benar alias manipulasi perolehan suara. Ini berarti, adanya ‘perintah agama’ untuk melakukan koreksi dengan tidak mendiamkan manipulasi suara itu, seperti yang terjadi di negeri kita dewasa ini.

Sebuah perintah Allah lainnya, berbunyi: “Dan jangan kalian taati perintah mereka yang bersikap keterlaluan“(Wa la tuthi’uu al amr al-musrifin), yang harus dikaitkan dengan firman Tuhan: “Tiap orang pekerja mengerjakan sesuai dengan kecakapan/profesinya” (Kullun ya’malu ’ala syakilatih). Karena itulah, tindakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang mengeluarkan keputusan melalui surat-surat keputusan (SK) dalam pemilu kita tahun ini, harus mendapatkan “koreksi”. Karena SK itu bertentangan dengan UUD kita yang ada, maka tentu saja itu tidak boleh oleh Undang-Undang. Tentu saja akan ada ‘tuduhan’ bahwa penulis melakukan politisasi kedua ayat tersebut. Namun, jelas upaya penulis itu sesuai dengan prinsip-prinsip yang ada dalam sekian banyak ajaran agama Islam. Namun, justru penulis menganggap ‘kritikan’ seperti itu, oleh ajaran Agama Terakhir tersebut, sebagai penolakan atas ketimpangan-ketimpangan.

*****

Suatu hal yang harus diingat dalam hal ini, adalah kenyataan bahwa Islam selalu ‘berbicara’ dalam bahasa yang beragam. Adakalanya secara mikro, dan ada kalanya secara makro dan kadang pula pula ia berbcara secara mikro dan makro. Secara mikro dapat dilihat pada firman Allah di atas, yaitu “Tiap orang pekerja mengerjakan sesuai dengan kecakapan/profesinya”. Namun, ada kalanya ia berbicara secara makro, seperti firman Allah: “Dan barang siapa mengambil selain Islam sebagai agama, maka amal sholehnya tidak diterima dan ia diakhirat kelak menjadi orang yang merugi “(Wa man yabtaghi ghaira al-Islami diinan falan yuqbala minhu wa huwa fi al-akhirati mina al-khasirin). Ini adalah sikap makro tiap orang muslim terhadap para pengikut agama lain, karenanya menjadi sikap semua orang muslim terhadap semua orang yang beragama lain.

Apakah ini berarti Islam tidak menghargai agama lain? Tidak demikian. Penghargaan itu harus ‘ditunjukkan’ dalam bentuk lain, yaitu penghargaan kepada tiap perbuatan baik (a’mal al khair). Seperti Allah swt berfirman: “Hendaknya ada sebuah kelompok diantara kalian, yang mengajak kepada perbuatan baik” (Waltakun minkum ummatun yad’uuna ila al-khairi). Firman Allah ini jelas berarti penghormatan terhadap tiap perbuatan baik umat manusia, walaupun berbeda keyakinan.

Adapun perintah Allah yang harus berlaku secara mikro maupun makro dapat dilihat antara lain pada ayat berikut: “Bagi kalian agama kalian, dan bagiku agamaku” (Lakum diinukum wa liyadiin). Dalam hal ini, perintah Allah berlaku baik bagi setiap orang muslim maupun bagi semua orang yang memeluk agama tersebut. Jadi, antara semua agama yang ada di dunia secara makro harus ada sikap saling menghormati, tanpa “kehilangan” keyakinan akan “kebenaran” masing-masing. Inilah prinsip hubungan antar agama secara makro bagi setiap orang.

Nah, kita sendiri sekarang dapat mengaca perbuatan yang kita lakukan, dalam sikap terhadap agama lain. Sudahkah kita memiliki “obyektifitas” (tidak memihak) kepada emosi sendiri? Jika belum, terus terang saja kita belum menjadi muslim yang dikehendaki oleh kitab suci tersebut. Namun, upaya perbaikan itu sendiri dapat dilakukan tiap waktu. Bukankah sebuah pepatah menyatakan, bahwa lebih baik terlambat dari pada tidak pernah sama sekali (better late than never).

Pemahaman kitab suci secara ‘baru’ tersebut, akan membuka bagi kita sebuah cakrawala/pandang yang akan ‘mendewasakan’ diri kita sendiri, baik dalam sikap secara mikro maupun makro. Secara mikro, ini berarti “perubahan besar” dalam kehidupan sendiri sehari-hari. Dan ini akan mempunyai pengaruhnya atas sikap-sikap kita. Secara makro, artinya sikap pribadi itu membawa perubahan lebih besar lagi yang mempengaruhi hubungan antar agama yang kita kembangkan bersama-sama para pemeluk agama/agama lain. Khususnya dengan mereka yang memiliki/mengembangkan kesadaran yang sama. Nah, jika cukup banyak jumlah para pengikut agama-agama yang ada berpendapat atau bersikap seperti ini, maka akan menjadi lebih sehatlah kehidupan kita bersama sebagai masyarakat, bangsa. Proses pendewasaan tersebut sangat kita perlukan dewasa ini sebagai bangsa, mengingat tingginya kadar keberagaman (heterogenitas) yang kita miliki. Di sini terasa berguna adagium NU yang mengharuskan “menjaga yang baik dari cara hidup lama, dan hanya mengambil yang lebih baik dari yang baru (Al-muhafadzah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdz bi al jadid al-ashlah). Ini adalah bagian dari proses pendewasaan diri yang mudah dalam bentuk ucapan, melainkan sulit dilaksanakan, bukan?


dikutip dari tulisan Abdurrahman Wahid